TpdpGpA9TUM6BSr0GUWlTfOlTi==
  • saintek@uinbukittinggi.ac.id
  • +62-852-5355-6585

Menghidupkan Roh Ki Hajar Dewantara: Menuju Kemerdekaan Belajar yang Hakiki

Bukittinggi (04/05/2026) - Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei seharusnya tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial yang terjebak dalam kemegahan upacara, melainkan menjadi momentum refleksi kolektif atas nasib literasi bangsa. Tanggal ini dipilih untuk menghormati kelahiran Ki Hajar Dewantara, sang pendobrak tembok diskriminasi pendidikan di era kolonial yang dengan gagah berani memperjuangkan hak belajar bagi kaum pribumi. Beliau meletakkan batu pertama bagi fondasi intelektual Indonesia melalui Perguruan Taman Siswa, sebuah simbol perlawanan terhadap sistem pendidikan Barat yang dianggap terlalu materialistik dan kaku. Tanpa visi besar dari beliau, barangkali pendidikan kita masih akan terkungkung dalam sistem yang memisahkan kasta sosial. Oleh sebab itu, esensi utama dari peringatan ini adalah untuk menghidupkan kembali api semangat perjuangan melawan ketidaktahuan yang masih membayangi sebagian besar masyarakat di pelosok negeri.

Salah satu warisan intelektual paling fundamental yang ditinggalkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah filosofi "Among", yang memandang pendidikan sebagai proses menuntun, bukan menuntut atau memaksakan kehendak pendidik kepada siswa. Beliau meyakini bahwa setiap anak lahir dengan kodrat uniknya masing-masing, layaknya benih tanaman yang memerlukan perawatan berbeda sesuai dengan karakteristik alaminya agar dapat tumbuh optimal. Dalam pandangan ini, guru berperan sebagai petani yang bertugas menyediakan lahan subur, pengairan yang cukup, dan perlindungan dari hama, tanpa berusaha mengubah jati diri dasar sang anak. Konsep ini tetap sangat relevan di tengah modernitas, di mana sistem pendidikan sering kali terjebak dalam standardisasi nilai akademik yang kaku. Dengan mengadopsi filosofi Among, kita diajak untuk menciptakan lingkungan belajar yang memerdekakan batin, sehingga potensi kreatif siswa dapat berkembang secara alami tanpa rasa takut.

Landasan moral tersebut kemudian diperkuat oleh trilogi kepemimpinan yang sangat legendaris, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, yang menjadi kompas bagi setiap pendidik. Di depan memberikan teladan, di tengah membangun kemauan, dan di belakang memberikan dorongan; sebuah harmoni peran yang menuntut integritas tinggi dari seorang guru sebagai figur sentral dalam kelas. Di era digital saat ini, keteladanan tidak lagi sebatas pada penguasaan materi di buku teks, melainkan meluas pada etika berkomunikasi dan cara menyaring informasi di dunia siber. Guru ditantang untuk menjadi motivator yang mampu membangkitkan gairah belajar di tengah arus distraksi teknologi yang sangat masif. Jika pendidik gagal menjadi inspirasi hidup bagi siswanya, maka teknologi hanya akan menjadi alat mekanis yang dingin dan kehilangan sentuhan kemanusiaan yang menjadi esensi dari pendidikan itu sendiri.

Namun, di balik keagungan filosofi tersebut, kita masih dihadapkan pada realitas pahit mengenai ketimpangan akses pendidikan yang masih terjadi secara mencolok antara pusat kota dan daerah tertinggal. Visi Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan yang merata sering kali terbentur oleh kendala infrastruktur, keterbatasan alat peraga, hingga kurangnya jumlah tenaga pendidik yang berkualitas di wilayah perbatasan. Globalisasi menuntut generasi muda kita untuk bersaing di panggung internasional, namun tantangan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak anak bangsa yang harus berjuang melewati medan berat hanya untuk mencapai sekolah. Komitmen pemerintah dalam pengalokasian anggaran harus benar-benar menyentuh akar rumput agar keadilan sosial dalam pendidikan bukan sekadar narasi politik. Tanpa pemerataan yang nyata, kemerdekaan belajar hanya akan menjadi hak istimewa bagi segelintir kelompok elit, sementara impian anak-anak di pelosok akan terus terkubur dalam keterasingan.

Sebagai penutup, perjalanan pendidikan Indonesia harus tetap berakar pada penguatan karakter dan budi pekerti yang luhur demi menjaga jati diri bangsa di tengah arus global. Ki Hajar Dewantara senantiasa menekankan pentingnya keseimbangan antara "Cipta, Rasa, dan Karsa" agar manusia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan nurani yang tajam. Pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang mampu menghasilkan individu-individu yang merdeka secara lahir dan batin, yang memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat luas. Hari Pendidikan Nasional harus menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari belajar adalah memanusiakan manusia dan membangun peradaban yang beradab. Dengan memadukan kemajuan ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal yang kita miliki, Indonesia berpeluang besar untuk mencetak generasi unggul yang kompetitif secara global namun tetap setia pada akar budayanya sendiri, (M.I).*

*M. Imamuddin, Dekan Fakultas Sains & Teknologi UIN Bukittinggi

0 Komentar

Helpdesk

KontakSaintek

Jika ada pertanyaan silahkan hubungi Helpdesk kami, kami sangat senang dapat melayani.

Helpdesk Saintek

Popup Image