Bukittinggi (04/05/2026) - Peringatan Hari
Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei seharusnya tidak sekadar menjadi
rutinitas seremonial yang terjebak dalam kemegahan upacara, melainkan menjadi
momentum refleksi kolektif atas nasib literasi bangsa. Tanggal ini dipilih
untuk menghormati kelahiran Ki Hajar Dewantara, sang pendobrak tembok
diskriminasi pendidikan di era kolonial yang dengan gagah berani memperjuangkan
hak belajar bagi kaum pribumi. Beliau meletakkan batu pertama bagi fondasi
intelektual Indonesia melalui Perguruan Taman Siswa, sebuah simbol perlawanan terhadap
sistem pendidikan Barat yang dianggap terlalu materialistik dan kaku. Tanpa
visi besar dari beliau, barangkali pendidikan kita masih akan terkungkung dalam
sistem yang memisahkan kasta sosial. Oleh sebab itu, esensi utama dari
peringatan ini adalah untuk menghidupkan kembali api semangat perjuangan
melawan ketidaktahuan yang masih membayangi sebagian besar masyarakat di
pelosok negeri.
Salah satu warisan intelektual paling fundamental yang ditinggalkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah filosofi "Among", yang memandang pendidikan sebagai proses menuntun, bukan menuntut atau memaksakan kehendak pendidik kepada siswa. Beliau meyakini bahwa setiap anak lahir dengan kodrat uniknya masing-masing, layaknya benih tanaman yang memerlukan perawatan berbeda sesuai dengan karakteristik alaminya agar dapat tumbuh optimal. Dalam pandangan ini, guru berperan sebagai petani yang bertugas menyediakan lahan subur, pengairan yang cukup, dan perlindungan dari hama, tanpa berusaha mengubah jati diri dasar sang anak. Konsep ini tetap sangat relevan di tengah modernitas, di mana sistem pendidikan sering kali terjebak dalam standardisasi nilai akademik yang kaku. Dengan mengadopsi filosofi Among, kita diajak untuk menciptakan lingkungan belajar yang memerdekakan batin, sehingga potensi kreatif siswa dapat berkembang secara alami tanpa rasa takut.
Landasan moral tersebut kemudian diperkuat oleh trilogi
kepemimpinan yang sangat legendaris, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing
Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, yang menjadi kompas bagi setiap
pendidik. Di depan memberikan teladan, di tengah membangun kemauan, dan di
belakang memberikan dorongan; sebuah harmoni peran yang menuntut integritas
tinggi dari seorang guru sebagai figur sentral dalam kelas. Di era digital saat
ini, keteladanan tidak lagi sebatas pada penguasaan materi di buku teks,
melainkan meluas pada etika berkomunikasi dan cara menyaring informasi di dunia
siber. Guru ditantang untuk menjadi motivator yang mampu membangkitkan gairah
belajar di tengah arus distraksi teknologi yang sangat masif. Jika pendidik
gagal menjadi inspirasi hidup bagi siswanya, maka teknologi hanya akan menjadi
alat mekanis yang dingin dan kehilangan sentuhan kemanusiaan yang menjadi
esensi dari pendidikan itu sendiri.
Namun, di balik keagungan filosofi tersebut, kita masih
dihadapkan pada realitas pahit mengenai ketimpangan akses pendidikan yang masih
terjadi secara mencolok antara pusat kota dan daerah tertinggal. Visi Ki Hajar
Dewantara mengenai pendidikan yang merata sering kali terbentur oleh kendala
infrastruktur, keterbatasan alat peraga, hingga kurangnya jumlah tenaga
pendidik yang berkualitas di wilayah perbatasan. Globalisasi menuntut generasi
muda kita untuk bersaing di panggung internasional, namun tantangan di lapangan
menunjukkan bahwa masih banyak anak bangsa yang harus berjuang melewati medan
berat hanya untuk mencapai sekolah. Komitmen pemerintah dalam pengalokasian
anggaran harus benar-benar menyentuh akar rumput agar keadilan sosial dalam
pendidikan bukan sekadar narasi politik. Tanpa pemerataan yang nyata,
kemerdekaan belajar hanya akan menjadi hak istimewa bagi segelintir kelompok
elit, sementara impian anak-anak di pelosok akan terus terkubur dalam
keterasingan.
Sebagai penutup, perjalanan pendidikan Indonesia harus tetap
berakar pada penguatan karakter dan budi pekerti yang luhur demi menjaga jati
diri bangsa di tengah arus global. Ki Hajar Dewantara senantiasa menekankan
pentingnya keseimbangan antara "Cipta, Rasa, dan Karsa" agar manusia
tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan nurani
yang tajam. Pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang mampu menghasilkan
individu-individu yang merdeka secara lahir dan batin, yang memiliki tanggung
jawab moral untuk memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat
luas. Hari Pendidikan Nasional harus menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari
belajar adalah memanusiakan manusia dan membangun peradaban yang beradab.
Dengan memadukan kemajuan ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal yang kita
miliki, Indonesia berpeluang besar untuk mencetak generasi unggul yang
kompetitif secara global namun tetap setia pada akar budayanya sendiri, (M.I).*
*M. Imamuddin,
Dekan Fakultas Sains & Teknologi UIN Bukittinggi
0 Komentar