BUKITTINGGI (18/5/2026) - Di sela-sela agenda akademik yang padat, jajaran pimpinan
Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M.
Djamil Djambek Bukittinggi melakukan kunjungan lapangan yang bernilai strategis
dan kultural pada
tanggal 14 Mei 2026. Dekan FST
UIN Bukittinggi, Assoc. Prof. Dr. M. Imamuddin, M.Pd., M.E., bersama Wakil
Dekan, Riri Okra, M.Kom., secara langsung mendampingi Dekan FST UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, Prof. Husni Teja Sukmana, S.T., M.Sc., Ph.D., dalam
sebuah perjalanan dinas khusus. Destinasi utama dalam kunjungan kali ini adalah
pusat kebudayaan Minangkabau yang tersohor, yaitu Istano Basa Pagaruyung yang
terletak di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar. Kunjungan ke situs bersejarah
ini bukan sekadar plesiran biasa, melainkan sebuah langkah awal yang terukur
untuk mengintegrasikan potensi lokal, nilai-nilai budaya, serta pendekatan
sains dan teknologi dalam program kerja sama kelembagaan yang nyata.
Selain
mengagumi kemegahan arsitektur dan warisan sejarah di Istano Basa Pagaruyung,
rombongan pimpinan lantas melanjutkan perjalanan ke nagari legendaris lainnya,
yaitu Koto Tuo Nagari Pariangan. Nagari Pariangan sendiri merupakan salah satu
desa wisata yang diakui secara internasional sebagai salah satu desa terindah
di dunia, sekaligus diyakini sebagai tempat asal-usul peradaban masyarakat
Minangkabau. Kehadiran para akademisi sains dan teknologi di dua lokasi
bersejarah ini bertujuan untuk melakukan pengamatan mendalam mengenai pola
hidup masyarakat, struktur tata ruang desa, pemanfaatan sumber daya alam, serta
pelestarian aset budaya. Melalui pendekatan langsung di lapangan, rombongan
dapat mengidentifikasi berbagai peluang dan tantangan nyata yang dihadapi oleh
komunitas lokal, yang nantinya dapat diintervensi menggunakan inovasi teknologi
tepat guna serta keilmuan mutakhir yang dimiliki oleh kedua kampus Islam negeri
tersebut.
Kegiatan
turun ke lapangan ini secara khusus dirancang sebagai bentuk survei awal guna
menyusun program pengabdian kepada masyarakat kolaboratif yang berbasis data
dan potensi wilayah. Dr. M. Imamuddin menjelaskan bahwa FST UIN Bukittinggi dan
FST UIN Jakarta ingin melahirkan sebuah program pengabdian yang tidak hanya
bersifat seremonial, melainkan program berkelanjutan yang mampu memberikan
solusi konkret bagi masyarakat di sekitar pusat budaya tersebut. Beberapa
gagasan yang mencuat selama survei di antaranya adalah digitalisasi arsip
sejarah, pengembangan sistem informasi pariwisata berbasis kecerdasan buatan,
pemetaan statistik kunjungan wisatawan, hingga penerapan teknologi ramah
lingkungan untuk pelestarian cagar budaya. Prof. Husni Teja Sukmana menyambut
baik konsep ini dan menilai bahwa kekayaan budaya Minangkabau di Tanah Datar
memiliki potensi luar biasa untuk dijadikan laboratorium sosial bagi dosen dan
mahasiswa kedua universitas.
Sinergi
yang ditunjukkan oleh Dekan dan Wakil Dekan FST UIN Bukittinggi beserta Dekan
FST UIN Jakarta ini menjadi bukti nyata bahwa implementasi dari Nota
Kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani sebelumnya langsung diwujudkan
dalam aksi nyata. Riri Okra, M.Kom., selaku Wakil Dekan menambahkan bahwa
keterlibatan aktif pimpinan dalam survei ini akan mempermudah penyusunan peta
jalan (roadmap) pengabdian masyarakat yang terstruktur dan berdampak
luas, (M.I).
0 Komentar