BUKITTINGGI (20/5/2026) - Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20
Mei bukan sekadar ritual tahunan untuk mengingat berdirinya organisasi Boedi Oetomo
pada tahun 1908. Lebih dari itu, momentum ini merupakan cermin besar bagi
bangsa Indonesia untuk merefleksikan kembali sejauh mana spirit nasionalisme
telah merasuk dalam sanubari setiap warga negara. Pada awal abad ke-20,
kebangkitan ditandai dengan kesadaran kaum terpelajar untuk keluar dari
sekat-sekat kedaerahan menuju persatuan nasional. Kini, setelah lebih dari satu
abad berlalu, tantangan yang dihadapi bangsa ini telah bertransformasi secara
radikal. Kita tidak lagi melawan penjajahan fisik yang kasat mata, melainkan
sedang bertarung melawan gempuran globalisasi, disrupsi teknologi, dan ancaman
polarisasi sosial yang berpotensi mengikis jati diri bangsa jika tidak
diantisipasi dengan bijaksana.
Esensi
dari kebangkitan nasional di era modern ini harus dikontekstualisasikan ulang
agar tidak menjadi slogan usang tanpa makna. Jika dahulu para pemuda bergerak
menggunakan pena dan diplomasi organisasi untuk menggugah kesadaran merdeka,
maka hari ini generasi muda harus bangkit dengan penguasaan sains, teknologi,
dan literasi digital yang kuat. Kebangkitan hari ini adalah tentang bagaimana
kita mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam bidang ekonomi, berdaulat dalam
mengelola kekayaan alam, serta memiliki ketahanan budaya yang kokoh. Bangsa
yang bangkit adalah bangsa yang tidak sekadar menjadi konsumen dari kemajuan
peradaban luar, melainkan aktif menjadi produsen inovasi yang diakui di
panggung internasional. Oleh karena itu, merawat ingatan sejarah harus
dibarengi dengan aksi nyata yang relevan dengan tuntutan zaman yang dinamis.
Sektor
pendidikan memegang peranan paling krusial dalam menyalakan kembali api
kebangkitan nasional ini. Institusi pendidikan tinggi dan sekolah-sekolah tidak
boleh hanya menjadi pabrik pencetak ijazah, melainkan harus bertransformasi
menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemikir kritis dan pemecah masalah.
Kurikulum yang diterapkan harus mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual
dengan penguatan karakter berbasis kearifan lokal dan nilai-nilai luhur
Pancasila. Ketika ruang kelas mampu menginspirasi mahasiswa untuk menciptakan
teknologi tepat guna atau menulis artikel ilmiah yang berdampak global, saat
itulah kebangkitan nasional sedang diwujudkan. Kita membutuhkan generasi yang
tidak mudah menyerah oleh keterbatasan, melainkan jeli melihat peluang di
tengah krisis dan berani mengambil risiko demi kemajuan bersama di masa depan
yang penuh ketidakpastian.
Namun,
kita juga tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan internal yang
masih menyandera laju perkembangan bangsa. Ketimpangan akses digital,
kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah, serta maraknya penyebaran berita
bohong atau hoaks di media sosial menjadi kerikil tajam dalam proses
kebangkitan ini. Transformasi teknologi yang tidak dibarengi dengan kedewasaan
berpikir justru dapat memicu perpecahan dan memperlebar jurang polarisasi di
tengah masyarakat. Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi momentum bagi
pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat pemerataan
pembangunan infrastruktur dan literasi. Tanpa adanya keadilan sosial dan
pemerataan kesempatan bagi seluruh anak bangsa, maka konsep kebangkitan
nasional yang seutuhnya hanya akan menjadi milik segelintir kelompok elit di
pusat-pusat pertumbuhan ekonomi saja.
Selain
sektor pendidikan dan infrastruktur, kebangkitan ekonomi kreatif dan
kemandirian digital juga menjadi pilar penting yang tidak boleh diabaikan. Anak
muda Indonesia hari ini memiliki potensi luar biasa dalam menciptakan ekosistem
digital, mulai dari pengembangan kecerdasan buatan, industri gim, hingga
pemanfaatan data statistik untuk kebijakan publik. Mengarahkan potensi besar
ini memerlukan regulasi yang berpihak pada inovasi lokal serta kolaborasi
lintas sektor yang harmonis. Ketika produk lokal mampu merajai pasar domestik
dan bersaing di pasar global, perputaran ekonomi akan semakin kuat dan mandiri.
Semangat Boedi Oetomo yang mengedepankan penguatan ekonomi bumiputera pada
masanya harus diadopsi dalam bentuk kedaulatan digital, di mana bangsa
Indonesia tidak hanya menjadi target pasar raksasa teknologi asing.
Kolektivitas
dan gotong royong juga tetap menjadi modal sosial terbesar yang dimiliki bangsa
ini sejak dahulu kala. Kebangkitan nasional tidak akan pernah tercapai melalui
kerja individual yang parsial, melainkan lewat sinergi kolektif dari seluruh
elemen masyarakat. Kolaborasi antara dunia akademik, industri, pemerintah, dan
komunitas masyarakat sipil harus diperkuat demi menciptakan ekosistem inovasi
yang berkelanjutan. Setiap individu, apa pun profesinya, memiliki tanggung
jawab moral untuk berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya. Baik
seorang pengembang perangkat lunak, peneliti matematika, guru di pelosok
negeri, maupun pelaku usaha mikro, semuanya memiliki peran setara dalam
menyusun bata-bata kemajuan bangsa. Kesadaran akan peran kolektif inilah yang
dahulu berhasil menyatukan Nusantara dan kini harus dihidupkan kembali.
Sebagai kesimpulan, Hari Kebangkitan Nasional adalah alarm pengingat bahwa proses menjadi bangsa yang besar dan bermartabat adalah sebuah perjuangan yang tidak pernah mengenal kata selesai. Kebangkitan bukanlah satu titik tujuan akhir, melainkan sebuah proses dialektika berkelanjutan untuk terus memperbaiki diri dan melompat lebih tinggi. Dengan merawat api semangat 1908, kita optimistis membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah menuju bangsa yang maju dan sejahtera. Mari kita jadikan momentum bersejarah ini untuk memperkuat komitmen, memperluas kolaborasi, dan menajamkan karya nyata di bidang masing-masing. Hanya dengan cara demikian, kita dapat memastikan bahwa fondasi yang telah diletakkan oleh para pendiri bangsa akan tetap kokoh menopang kejayaan Indonesia di masa-masa yang akan datang, (M.I).*
*M. Imamuddin, Dosen UIN Bukittinggi (Saat ini sebagai
Dekan FST).
0 Komentar