Bukittinggi (27-07-2026) - Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sjech M. Djamil
Djambek Bukittinggi, Assoc. Prof. Dr. M. Imamuddin, M.Pd., M.E., secara resmi
menghadiri perhelatan bergengsi Forum Dekan (FORDEK) FST PTKIN se-Indonesia
tahun 2026. Pertemuan berskala nasional yang sangat strategis ini
diselenggarakan secara tatap muka bertempat di Hotel Novotel Semarang, Jawa
Tengah. Berlangsung selama empat hari berturut-turut, mulai dari tanggal 16
hingga 19 Juli 2026, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi konsolidasi
pimpinan fakultas sains dan teknologi dalam lingkup Perguruan Tinggi Keagamaan
Islam Negeri. Kehadiran pimpinan FST dari UIN Bukittinggi ini menegaskan
komitmen institusi untuk senantiasa terlibat aktif dalam merumuskan arah
kebijakan serta penguatan tata kelola pendidikan tinggi sains dan teknologi di
Tanah Air.
Penyelenggaraan
FORDEK tahun ini terasa istimewa karena bertindak sebagai pelaksana utama
adalah UIN Walisongo Semarang, sebuah kampus yang terus menunjukkan
keunggulannya dalam integrasi ilmu pengetahuan dan keagamaan. Pertemuan tahunan
ini berhasil menghimpun seluruh perwakilan FST dari 23 UIN se-PTKIN yang telah
resmi berdiri hingga saat ini. Dari total 40 UIN yang berada di bawah naungan
Kementerian Agama Republik Indonesia, tercatat baru 23 UIN yang telah
mendirikan Fakultas Sains dan Teknologi secara mandiri. Keikutsertaan FST UIN
Bukittinggi pada agenda tahunan di Semarang ini sekaligus memperkuat posisi
kelembagaannya dalam peta pendidikan tinggi keagamaan nasional, sebagai upaya
konkret untuk saling bertukar pikiran dan berbagi best practices antar pimpinan
perguruan tinggi.
Momen
FORDEK 2026 ini juga mencatatkan sejarah tersendiri karena turut dihadiri oleh
pimpinan dari lima FST yang baru terbentuk di lingkungan PTKIN, di mana FST UIN
Bukittinggi menjadi salah satu di antaranya. Sebagai jajaran fakultas yang baru
berkembang, partisipasi aktif Assoc. Prof. Dr. M. Imamuddin, M.Pd., M.E.
membuka peluang besar untuk menjalin kerja sama strategis, sinergi kelembagaan,
serta kolaborasi riset dengan FST UIN lain yang sudah lebih dulu maju dan
berpengalaman. Kehadiran entitas baru ini memberikan energi baru bagi jejaring
pimpinan FST dalam memperluas cakupan keilmuan sains di perguruan tinggi Islam,
sehingga pertumbuhan akademis serta mutu tata kelola fakultas sains yang baru
dapat terakselerasi secara maksimal melalui koordinasi yang berkelanjutan.
Kegiatan
FORDEK 2026 ini semakin berbobot dengan hadirnya Direktur Pendidikan Tinggi
Keagamaan Islam (Pendis) Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H.
Amien Suyitno, M.Ag., yang memberikan arahan langsung kepada seluruh peserta
forum. Dalam sambutan utamanya, beliau menyampaikan pandangan strategis
mengenai peran sentral yang harus dimainkan oleh Fakultas Sains dan Teknologi
di seluruh PTKIN. Prof. Amien Suyitno menekankan bahwa keberadaan FST di PTKIN
tidak boleh sekadar menjadi pelengkap struktur organisasi kampus semata,
melainkan harus bertransformasi menjadi corong utama kemajuan ilmu sains dan
teknologi nasional. Namun demikian, pengembangan ilmu pengetahuan sains
tersebut tetap wajib dibingkai dalam tatanan nilai-nilai keislaman demi
mencetak lulusan berkarakter unggul.
Lebih
lanjut, Direktur Pendis menggarisbawahi pentingnya menjaga keunikan serta
keunggulan komparatif yang dimiliki oleh perguruan tinggi keagamaan Islam
dibandingkan dengan perguruan tinggi umum lainnya. Beliau menegaskan bahwa
lulusan FST PTKIN harus memiliki keunggulan ganda: di satu sisi mereka
menguasai literasi sains, teknologi, serta metodologi penelitian modern secara
mumpuni, tetapi di sisi lain mereka tetap teguh memegang karakter yang religius
dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, kurikulum serta lingkungan akademik di
FST harus dirancang secara integratif agar mampu merespons tantangan zaman
tanpa kehilangan akar spiritualitasnya. Pesan ini disambut antusias oleh para
dekan yang berkomitmen untuk mengimplementasikan arahan tersebut dalam kurikulum
dan budaya akademik di kampus masing-masing.
Salah
satu poin rekomendasi paling krusial yang dihasilkan dari musyawarah nasional
FORDEK 2026 ini adalah kesepakatan mengenai pentingnya infrastruktur
laboratorium di setiap fakultas. Forum merekomendasikan keharusan bagi setiap
FST untuk memiliki dan mengelola Laboratorium Fakultas secara mandiri,
ketimbang hanya bergantung pada konsep laboratorium terpadu di tingkat
universitas sebagaimana yang umumnya diterapkan saat ini. Para dekan
menyepakati pandangan dasar bahwa laboratorium di lingkungan FST bukan sebatas
fasilitas penunjang kegiatan praktikum semata, melainkan merupakan
"roh" utama yang menentukan mutu kompetensi, kualitas riset, serta
daya saing para mahasiswa dan dosen sains. Keberadaan laboratorium spesifik
fakultas dinilai sangat mendesak demi efektivitas proses pembelajaran
saintifik.
Menanggapi hasil dan rekomendasi penting dari forum tersebut, Assoc. Prof. Dr. M. Imamuddin, M.Pd., M.E. menyatakan kesiapan FST UIN Bukittinggi untuk segera menindaklanjutinya di tingkat fakultas. Beliau menegaskan bahwa keikutsertaan FST UIN Bukittinggi dalam FORDEK 2026 di Semarang ini akan menjadi acuan penting dalam mengakselerasi pembangunan sarana prasarana, khususnya pengembangan laboratorium fakultas yang memadai bagi mahasiswa. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa mutu pendidikan serta pengalaman belajar para mahasiswa FST UIN Bukittinggi mampu bersaing secara nasional. Dengan mengusung semangat kolaborasi antar-FST PTKIN, UIN Bukittinggi optimistis dapat mencetak sarjana sains dan teknologi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga taat beragama dan berdaya saing tinggi, (MI).
0 Komentar